Awal tahun 2000-an adalah masa-masa sulit bagi negara Jerman. Nilai ekspor menurun drastis, angka pengangguran meningkat tajam serta berbagai tunjangan sosial dipangkas. Kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah waktu itu semakin berkurang. Gerhard Schröder yang kala itu menjabat sebagai kanselir menjanjikan akan menekan angka pengangguran sampai 3,5 juta. Namun, sampai akhir masa jabatannya target tersebut gagal diwujudkan.

Kegagalan tersebut rupanya harus dibayar mahal oleh Gerhard Schröder. Pada pemilu tahun 2005 Ketua Partai Sosial-Demokrat itu harus merelakan lawan politiknya mengambil alih posisi kepemimpinan. Masyarakat Jerman menginginkan perubahan. Mereka menginginkan seorang figur yang dapat menyelamatkan Jerman dari jurang kehancuran. Dan pilihan itu jatuh pada seorang politikus wanita, Dr Angela Merkel, yang telah memimpin Partai Christlich Demokratische Union Deutschland sejak tahun 2000. Kebijakan Merkel yang cenderung kapitalis sebenarnya kurang disukai oleh masyarakat kelas pekerja karena lebih menganakemaskan pemilik modal. Namun, berkat kepiawaiannya dan dukungan solid dari partainya, Merkel mampu menyakinkan masyarakat bahwa strateginya adalah satu-satunya cara untuk membuka lapangan kerja seluas-luasnya.

Sejak dilantik November 2005, kepemimpinan Angela Merkel kini sudah berumur 2,5 tahun. Sekarang masyarakat Jerman bisa merasakan hasil perubahan kebijakan yang dibawa Merkel. Berbagai prestasi ekonomi dan politik telah diraih selama masa kepemimpinannya. Di bidang ekonomi, misalnya, ekspor Jerman mampu menembus angka€ 969 miliar euro pada akhir tahun 2007. Angka tersebut 8,5 persen lebih tinggi dari nilai ekspor tahun sebelumnya. Nilai surplus neraca perdagangan tersebut sebagian besar diperoleh dari hasil ekspor ke negara-negara maju, seperti Perancis (28,9 miliar euro), Amerika Serikat (€27,7 miliar euro), Inggris (€27,6 miliar euro), dan Spanyol (27,0 miliar euro).

Catatan keberhasilan ekonomi lainnya yang dibukukan pemerintahan Angela Merkel ialah pengurangan angka pengangguran. Badan statistik Jerman melaporkan jumlah pengangguran awal tahun 2008 tercatat sebesar 3,44 juta. Atau turun sebesar 22,7 persen daripada tahun sebelumnya. Jumlah itu adalah yang terendah sejak 12 tahun terakhir. Dan sekaligus melampaui target yang dicanangkan pemerintah sebelumnya.

Di bidang politik dan hubungan luar negeri, Jerman mampu memainkan peranan yang cukup penting dalam penyelesaian isu-isu global. Di tingkat Eropa, Jerman bersama dengan Perancis semakin mengukuhkan perannya sebagai donatur dan penggerak utama Uni Eropa. Selain itu, Jerman juga menjadi salah satu negara pelopor dalam penanggulangan pemanasan global. Dalam isu politik dunia, Jerman menjadi satunya-satunya negara bukan anggota tetap Dewan Keamanan PBB yang dilibatkan dalam perundingan damai dengan Iran terkait dengan program nuklir negara tersebut.

Kejelian Angela Merkel rupanya tidak berhenti sampai di sana. Kenyataan bahwa Jerman bukan lagi tempat ideal untuk produksi juga telah diantisipasi. Sebagaimana diberitakan berbagai media bahwa perusahaan-perusahaan besar lebih memilih membuka pabrik baru di Asia atau Eropa Timur daripada di Jerman karena alasan mahalnya tenaga kerja. Sebagai contohnya adalah Nokia. Pada awal tahun 2008 produsen telepon seluler tersebut menutup pabrik perakitannya di Bochum dan memindahkan produksinya ke Romania. Permasalahan hengkangnya perusahaan-perusahaan besar tersebut tidak dijawab Angela Merkel dengan menurunkan standar gaji pekerja Jerman. Sebaliknya, pemerintah justru mengucurkan dana penelitian di bidang produksi sebesar €50 miliar euro. Kebijakan tersebut adalah sebuah solusi yg brilian, optimis, dan mendidik. Sebuah strategi yang menguntungkan kedua belah pihak, baik pengusaha maupun pekerja. Dengan penemuan teknologi baru, diharapkan proses produksi lebih efisien dan biaya produksi dapat ditekan. Jadi harga produk tetap bersaing dan perusahaan dapat bertahan di negeri panser tersebut.

Prestasi-prestasi di atas rupanya telah mengantarkan Angela Merkel menjadi politikus terpopuler di Jerman tahun ini. Jajak pendapat terakhir yang diadakan oleh majalah Stern dan televisi RTL di Hamburg menyatakan bahwa 60 persen penduduk Jerman akan memilih Merkel untuk kedua kalinya dalam pemilu mendatang. Hasil jajak pendapat tersebut semakin mengukuhkan dominasi Merkel atas rival terberatnya dari Sozialdemokratische Partei Deutschlands (SPD), Kurt Beck, yang hanya memperoleh 12 persen dukungan.

Begitulah perbaikan yang dihasilkan dari sebuah kepemimpinan yang cerdas. Dampak positifnya dapat dirasakan masyarakat dalam kurun waktu yang relatif singkat. Tanpa bermaksud menihilkan prestasi yang dicapai oleh pemerintahan SBY-JK, ada baiknya kita becermin pada profil kepemimpinan Angela Merkel tersebut. Dari sana kita bisa membandingkan dan menilai seberapa cerdas dan efektif kepemimpinan SBY-JK dalam merespons segala permasalahan yang ada. Untuk kemudian, hasil evaluasi tersebut kita jadikan sebagai bahan pertimbangan dalam menentukan pilihan pada Pemilu tahun 2009 nanti.

Oleh: Supriyanto M.Sc.
Mahasiswa S-3 Bidang Supply Chain Management, Universität Duisburg- Essen, Jerman. Tulisan ini diambil dari Harian Kompas, 21 Mei 2004.

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *