Indonesia, negeri yang termasuk negara yang paling terpengaruhi oleh korupsi di dunia menurut Transparency International dalam laporannya “Global Corruption Barometer 2009”, ternyata juga termasuk salah satu negara berkembang yang dapat bertahan dengan baik di masa resesi global ini, menurut majalah bisnis Business Week. Bahkan Ha-Joon Chang, seorang Profesor ekonomi di Universitas Cambridge yang juga konsultan organisasi internasional seperti UN, World Bank, Asia Development Bank dan European Investment Bank, mengatakan dalam bukunya “Bad Samaritans” bahwa Indonesia adalah negara yang unik, yang begitu korup tapi perkembangan ekonominya baik.

Then we have countries like Indonesia that were very corrupt but performed well economically.”

Tapi jangan senang dulu apalagi berbangga diri. Di mata Internasional ternyata Jakarta, ibu kota republik kita ini adalah kota paling beresiko kedua di dunia untuk berkarir menurut hasil penelitian ORC Worldwide, sebuah perusahaan konsultan terkemuka yang bergerak di bidang Global Human Resource. Data hasil penelitian mereka kemudian banyak dibahas di beberapa forum dan media internasional seperti majalah bisnis Business Week dan majalah CIO (Chief Information Officers).

Majalah para manajer IT, CIO melansir bahwa, untuk bidang IT, Jakarta menyediakan peluang cukup besar untuk berkarir, tapi juga menduduki rangking ke lima dalam rangking tempat bekerja yang paling beresiko.

Ada beberapa faktor kritis yang membuat ‘prestasi’ Indonesia melejit naik ke rangking kedua sedunia setelah Lagos (Nigeria) menempati ‘juara pertama’.

Faktor pertama adalah polusi udara. Langit Jakarta tak lagi sebiru dulu, bahkan masih kalah biru dibanding langit Frankfurt di Jerman, walaupun lokasinya tidak jauh dari Borneo yang merupakan paru-paru dunia. Kantor berita Antara melansir (Oktober 2009) bahwa tingkat polusi Jakarta termasuk terburuk ketiga di dunia. Dan kita mungkin akan ikut berfikir ulang untuk menjadikan Jakarta sebagai tempat hidup keluarga dan anak-anak kita tercinta.

Kedua, buruknya sanitasi. Ternyata Jakarta, metropolis dan pusat pergerakan ekonomi Indonesia masih juga buruk dalam soal mengatasi permasalahn sanitasi, paling tidak oleh ORC Human Resource dan media-media internasional. Kita sendiri juga setia menyaksikan akrabnya Jakarta dengan banjir yang datang rutin tiap tahun. Lalu pengelolaan sampah yang selalu saja bermasalah dan belum selesai. Tentunya permasalahan semacam ini tidak dapat begitu saja dianggap biasa, dan perlu disikapi dengan adil dan benar, bukan hanya urusan pemerintah melainkan kita semua.

Selain itu menurut majalah Business Week ternyata faktor instabilitas politik juga ikut berpengaruh dalam menentukan ‘prestasi’ Jakarta. Hal ini dapat dipahami, jika sisuasi politik tidak stabil, selain memperburuk keadaan ekonomi juga membuat tingkat kriminalitas akan naik. Tentunya ini akan berimplikasi pada naiknya peluang resiko tinggal di Jakarta, walaupun dari hari ke hari masyarakat kita makin dewasa dalam berdemokrasi.

Terakhir, faktor yang juga tidak kalah pentingnya adalah terorisme. Belakangan ini kita sering mendengar berita-berita aksi penumpasan terorisme yang dilakukan oleh kepolisian Indonesia. Gembong-gembongnya diberondong mati. Lepas dari benar-tidaknya tindakan polisi atau peristiwa tersebut. Nampak jelas ada upaya untuk menunjukan citra yang baik oleh pemerintah baik ke dalam maupun ke luar (internasional). Ke dalam, tentunya setelah kasus Century yang menjerat banyak petingi pemerintahan, penumpasan terorisme ini merupakan prestasi pemerintah. Dan ke luar, hal ini dianggap dapat meyakinkan internasional akan keseriusan pemerintah Indonesia melawan terorisme, yang nantinya akan berimplikasi pada naiknya perkembangan investasi dan ekonomi Indonesia. Media-media dalam negeri pun kompak memenuhi headlinenya dengan berita-berita aksi heroik penumpasan terorisme, hingga banyak berita lainnya yang tidak kalah penting dan aktual seperti gempa, longsor dan kelanjutan kasus Century agak tersingkir dari tema nasional. Namun euphoria kemenangan atas terorisme ini juga sebetulnya dapat berdampak sebaliknya, banyak masyarakat internasional yang sebelumnya tidak tahu menjadi tahu dan ikut mengidentikan Indonesia dengan terorisme, sehingga prestasi yang terlalu ‘dibesarkan’ media ini juga ikut berperan membuat Jakarta sebagai kota yang beresiko tinggi untuk ditinggali.

Berfikir positif
Permasalahan Jakarta tersebut sangat mungkin dimiliki juga oleh kota-kota lain di Indonesia. Dengan adanya data dan fakta tersebut, bukan berarti kemudian kita meninggalkan Jakarta dan mencari kota lain yang lebih cocok, atau bahkan hengkang ke luar negeri. Barangkali kita masih memiliki pilihan, tapi banyak sahabat dan kerabat kita tidak memiliki pilihan lain selain tinggal di Jakarta. Atau yang di luar negeri baik yang sedang belajar maupun bekerja menjadi enggan untuk pulang ke tanah air. Tidak demikian.

Seorang sahabat pernah menulis, “Di dunia ini hanya ada dua jenis batu, batu penghalang dan batu loncatan. Yang membedakan adalah siapa yang melihatnya”. Sekarang apakah yang kita lihat saat ini batu penghalang atau batu loncatan?

Semua itu bisa menjadi dinding besar yang akan mempersempit ruang gerak dan kesempatan kita, tapi bisa juga menjadi tantangan besar yang akan mendewasakan dan menjadikan bangsa kita lebih baik lagi. Menjadikannya sebagai batu loncatan, yang semakin besar batu itu, semakin besar pula loncatan kita. Asalkan kita memiliki kemauan, dan berani menyikapi secara positif.

Dan ternyata dari sekian banyak efek negatif ada salah satu efek positif dari tingginya ‘prestasi’ Jakarta dalam hal kepemilikan resiko ini, yaitu makin sedikit ekspatriat yang mau berkarir di Jakarta, sehingga membuka peluang besar bagi profesional Indonesia untuk menempati posisi strategis di perusahaan multi-nasional di Jakarta.

Nah, bagaimana, anda siap berkarir di Jakarta?

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *