AIPSE Association of Indonesian Professional small medium Sized Enterprises

Board's Corner

Adam Die Krise ist ein weiteres Argument für den deutschen Mittelstand neue, strategische Absatzmärkte zu finden. Unternehmen müssen sich heute mehr den je für die Zukunft absichern und  ihr Engagement in "fremden Märkten" verstärken und zielgerichteter gestalten. Dabei fällt der Blick jener, die die Zeichen der Zeit erkannt haben, maßgeblich auf die beiden asiatischen Riesen, China und Indien. Indonesien aber bietet gerade mittelständischen Unternehmen heute teils Rahmenbedingungen als Indien und China dies tun. Die Stärken Indonesiens und die hohen und nachhaltigen Potentiale für deutsche Unternehmen möchten wir gern aufzeigen und die Vorbehalte sachlich abbauen. Indonesien ist Zukunft.

Adam Pamma, AIPSE PR & Investment Promotion Manager
Ekonomi Eropa Lima Tahun Mendatang PDF Print E-mail
Written by Administrator   
Saturday, 15 July 2006 13:44
Orang selalu membicarakan masa depan perekonomian Cina dan India, tapi bagaimana dengan perekonomian Eropa lima tahun yang akan datang?
Akan menjadi lebih gampang menilai bahwa kini Eropa telah tamat, terutama di bidang ekonomi, politik, sosial, dan tren demografi yang saat ini tengah berlangsung. Belum lagi ditambah peristiwa di Prancis beberapa waktu lalu ketika satu juga warganya turun ke jalan memprotes kebijakan 'kecil' di sektor perburuhan. Tapi Eropa belum tamat, dan tidak akan tamat.

 

Tapi memang tidak diragukan lagi bahwa selama 10 tahun belakangan ini kinerja perekonomian Eropa pudar. Di saat sebagian besar kawasan maupun negara di dunia semakin kompetitif akibat desakan globalisasi, Eropa malah tidak menampakkan diri dan tidak turut serta di dalamnya.

 

Tapi kami tidak bermaksud menyama-ratakan seluruh Eropa, tentu saja. Dua dekade lalu, Inggris Raya menyadari hal globalisasi di pasar negara berkembag sehingga meliberalisasi kebijakan sektor ekonominya. Hanya untuk menjaga agar Inggris Raya tetap kompetitif. Demikian pula beberapa negara di Eropa Timur seperti Hungaria dan Slovakia. Mereka melakukan reformasi yang efektif dan pro kalangan bisnis usai mendepak sistem komunisme dari negaranya.

 

Sayangnya, kabar baik dari negara-negara macam ini tertutup oleh kabar buruk yang datang dari Prancis, Jerman, dan Italia. Ketiga negara yang kerap disebut sebagai tiga pilar utama dari kejayaan Eropa masa lalu ini enggan memasuki sektor perekonomian investasi padat modal dan mengambil resiko darinya. Akibatnya, sektor ekonomi ketiganya bisa disebut jalan ditempat.

 

Pertimbangkan beberapa data statistik berikut ini. Selama 35 tahun terakhir, menurut riset dari Joel Kotkin dari The New America Foundation, perekonomian AS telah menciptakan 57 juta lapangan kerja baru. Sementara Eropa, dengan Produk Domestik Bruto (PDB) yang hampir sama dengan AS hanya menciptakan lapangan kerja baru untuk empat juta orang dalam periode yang sama.

 

Selain itu, tingkat pengangguran di Eropa berada di level 10 persen, atau dua kali lipat dari tingkat pengangguran di AS. Meski memang Eropa memiliki posisi yang kuat dalam hal perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Dana untuk riset dan pengembangan di Prancis, Jerman, dan Italia misalnya, lebih tinggi 50 persen dari dana riset dan pengembangan di AS. Sementara data dari demografi juga suram. Tiga negara tersebut semuanya mengalami penciutan populasi.

 

Bisa jadi, terkait semua ini, benua Eropa sekarang sedang mengalami penderitaan akibat 'bad mood'. Ada lagi riset dari poling Harris Interactive. Pertanyaan yang diajukan adalah 'Seberapa puaskah Anda dengan hidup Anda?' Hanya sekitar 18 persen warga Eropa dari tiga negara tersebut di atas menjawab 'sangat puas'. Tapi bandingkan data ini dengan penduduk AS. Di negara Paman Sam, jumlah penduduk yang menjawab 'sangat puas' mencapai 57 persen.

 

Hasil poling yang lebih gawat lagi terungkap dari pertanyaan 'Bagaimana Anda melihat kondisi Anda lima tahun yang akan datang'. Sebanyak 2/3 penduduk Eropa melihat diri mereka bakal mentok di tempat dan kondisi yang buruk. Hanya sepertiganya optimis melihat bakal ada perubahan ke arah lebih baik. Perbandingannya, sebanyak 2/3 penduduk negeri Paman Sam mengharapkan masa depan yang lebih baik.

 

Jadi, tampaknya memang Eropa siap menulis nama di batu nisanya sendiri pada masa yang akan datang. Tapi bisa jadi hal itu tidak bakal kesampaian.

 

Ada tiga faktor utama.
Pertama adalah perekonomian Eropa sudah terlanjur besar dan mapan untuk kolaps. Masih ingat peristiwa 1980? Di mana Jepang dengan sistem kompetisinya yang dahsyat hampir mendepak AS keluar dari bisnis. Pada saat itu, tingkat pengangguran di AS mencapai 10 persen, inflasi 14 persen, tingkat bunga bahkan sampai 20 persen. Tampaknya, hal yang sama juga berlaku di Eropa saat ini, bahkan AS pada waktu itu bisa dibilang lebih buruk. AS terkena malaise, kata Presidennya, Jimmy Carter.

 

Tapi saat itu terlalu banyak yang dipertaruhkan AS untuk menyerah dari Jepang. Lewat pemilu, warga AS memilih langsung presidennya yang berkarakter optimis. Sang presiden mengangkat harga diri bangsa (dan anggaran belanja militernya) lewat kampanye anti komunisme. Ia memotong pajak dan menggairahkan semangat wirausaha yang akhirnya menyelamatkan perekonomian AS.

 

Eropa bisa dibilang dibebani sejarah panjang, infrastruktur dan janji bila mereka akan terpuruk ekonominya. Tenaga kerja Eropa saat ini adalah salah satu tenaga kerja yang paling tinggi tingkat pendidikannya di seluruh dunia. Dan, meski tidak terlalu menonjol, saat ini ada tanda-tanda geliat ekonomi Eropa. Tanda itu adalah : Jerman dipimpin oleh kanselir yang terkenal dengan sebutan sang reformis, Andrea Merkel. Pemerintah Prancis bersedia mengubah kebijakan tenaga kerjanya untuk menanggulangi pengangguran.

 

Faktor kedua adalah saat ini di Eropa tengah mencuat kader baru yang membawa transformasi bisnis. Beberapa di antara mereka adalah Carlos Ghosn dari Renault, Dieter Zetsche dari Mercedes dan Klaus Kleinfeld dari Siemens. Mereka memahami bahwa perusahaan yang dipimpinnya beroperasi di level global, sehingga mereka membawa angin perubahan agar Eropa tetap kompetitif.

 

Faktor terakhir adalah Eropa 'lama' bakal disaingi oleh Eropa baru, Eropa Timur. Di mana pemerintah mereka mengambil kebijakan yang sangat mendukung perkembangan bisnis. Akibatnya saat ini banyak muncul generasi baru pengusaha-pengusaha yang melihat kesempatan bisnis di mana saja.

 

Contohnya, dalam perjalanan kami ke Polandia, Warsawa, kami mendengar ada seorang pebisnis yang tengah berpidato dihadapan 300 pengusaha Polandia. Si pebisnis ini mengejutkan seluruh pendengarnya dengan mengatakan, ''Kita telah menjadi sangat mahal di dalam negeri. Saya ingin perusahaan Saya menjadi pihak ketiga (outsourcing) bagi pebisnis Eropa. Jadi saya memindahkan seluruh kegiatan operasional perusahaan yang baru ke Ukraina, Anda-Anda juga harus demikian!''.

 

Para pengusaha tersebut, sebagian kecil darinya, sangat bersemangat mendengar anjuran bisnis demikian. Oleh karena itu, kami beranggapan masih banyak yang bisa diraih dalam masa depan Eropa, ketimbang hanya mengandalkan dari Prancis, Jerman dan Italia.

 

Jadi, bagaimana Eropa lima tahun yang akan datang? Memang tidak bisa diramal. Tapi kami yakin Eropa akan menjadi lebih baik. Bahkan melihat dari bermunculan pemimpin-pemimpin bisnis, pengusaha, dan runtuhnya sistem ekonomi sosialisme, Eropa bakal baik-baik saja di jalan ekonomi yang positif menuju masa depan. Sayangnya saat ini kebanyakan dari penduduk Eropa tidak menyadarinya.



 
  • Deutsch (DE-CH-AT)
  • English (United Kingdom)

Erfahren Sie über AIPSE. Flyer hier herunterladen.

We have 3 guests online