| Spekulan Ancam Ekonomi Global |
|
|
|
| Geschrieben von: Supriyanto M.Sc. |
| Montag, den 02. März 2009 um 11:53 Uhr |
|
Penaikan harga minyak sampai US$146/barel beberapa waktu lalu agak terasa janggal. Tidak seperti penaikan sebelumnya, melambungnya harga minyak kali ini sulit dijelaskan faktor fundamental ekonomi. Ketidakjelasan tersebut akhirnya menimbulkan banyak tanggapan dan spekulasi. Seorang ahli energi dari Purvin & Gertz, John Vautrain, menduga bahwa penaikan harga minyak kali ini disebabkan adanya ancaman serangan Amerika dan Israel terhadap instalasi nuklir Iran, yang juga pengekspor minyak 2.780 barel/hari. Sementara itu Perdana Menteri Inggris, Gordon Brown, berpendapat tingginya harga minyak dipicu turunnya produksi dari negara OPEC. Menurut data statistik, produksi minyak dunia memang dilaporkan sedikit menurun sebesar 0,2% dan pada saat yang sama kebutuhan meningkat 0,1%. Namun, pernyataan itu dibantah Presiden OPEC Chakib Khelil. Ia menegaskan bahwa perubahan permintaan dan penawaran tersebut tidak cukup signifikan untuk membuat harga minyak naik sampai 200%. Dia cenderung melihat dolar sebagai penyebab meroketnya harga minyak. Melemahnya nilai dolar ditengarai telah mendorong para investor mengalihkan investasinya pada komoditas, termasuk minyak. Yang paling menarik adalah analisis Gorge Soros. Berbeda dengan ekonom pada umumnya, Soros menyimpulkan bahwa penaikan harga minyak kali ini tidak terlepas dari ulah para spekulan. Hipotesis ini menjadi sangat menarik, karena fakta menunjukkan indikasi ke arah sana. Pertama, naiknya kebutuhan minyak kali ini dinilai tidak wajar karena kontradiktif dengan pertumbuhan ekonomi dunia yang sedang menurun. Pada kondisi normal, jumlah konsumsi minyak seharusnya berbanding lurus dengan pertumbuhan ekonomi dunia. Kedua, dalam bursa saham terlihat adanya aliran dana investasi yang cukup besar pada komoditas minyak. Hal ini bisa mengindikasikan bahwa minyak diperdagangkan bukan lagi sebagai komoditas yang dikonsumsi melainkan hanya sebagai aset. Ketiga, kurva penaikan harga minyak pada bulan-bulan terakhir mengikuti bentuk hiperbola. Menurut Gorge Soros, pola seperti itu adalah karakteristik adanya fenomena bubbles yang merupakan indikasi terjadinya aksi spekulan.
Oleh Supriyanto MSc. Sumber: Media Indonesia http://www.mediaindonesia.com/read/2008/08/08/23258/68/11/Spekulan_Ancam_Ekonomi_Global |
Die Krise ist ein weiteres Argument für den deutschen Mittelstand neue, strategische Absatzmärkte zu finden. Unternehmen müssen sich heute mehr den je für die Zukunft absichern und ihr Engagement in "fremden Märkten" verstärken und zielgerichteter gestalten. Dabei fällt der Blick jener, die die Zeichen der Zeit erkannt haben, maßgeblich auf die beiden asiatischen Riesen, China und Indien. Indonesien aber bietet gerade mittelständischen Unternehmen heute teils Rahmenbedingungen als Indien und China dies tun. Die Stärken Indonesiens und die hohen und nachhaltigen Potentiale für deutsche Unternehmen möchten wir gern aufzeigen und die Vorbehalte sachlich abbauen. Indonesien ist Zukunft.




