AIPSE Association of Indonesian Professional small medium Sized Enterprises

Board's Corner

AIPSE Director Keberadaan para peneliti, kaum profesional industri serta mahasiswa Indonesia di luar negeri merupakan salah satu kekayaan bangsa Indonesia yang tidak boleh disia-siakan. Ilmu, pengalaman, keahlian dan jaringan serta fasilitas yang mereka miliki mampu menjadi sumber kekuatan bagi pembangunan di sektor riil. AIPSE terbentuk atas dasar keinginan untuk mendorong kemajuan dunia industri di Indonesia dengan memanfaatkan semaksimal mungkin keberadaan para tenaga ahli dan peneliti di Eropa. Selain itu AIPSE bekerja sama dengan asosiasi yang ada di Eropa mencoba melakukan proses transfer teknologi dari Eropa ke Indonesia secara kolektif, sistematis, terencana dan tepat sasaran.

Dipl. -Ing. (FH) Sri Nugroho M.Sc., M.E. (AIPSE Director)

Spekulan Ancam Ekonomi Global PDF Print E-mail
Written by Supriyanto M.Sc.   
Monday, 02 March 2009 11:53

Penaikan harga minyak sampai US$146/barel beberapa waktu lalu agak terasa janggal. Tidak seperti penaikan sebelumnya, melambungnya harga minyak kali ini sulit dijelaskan faktor fundamental ekonomi. Ketidakjelasan tersebut akhirnya menimbulkan banyak tanggapan dan spekulasi.

Seorang ahli energi dari Purvin & Gertz, John Vautrain, menduga bahwa penaikan harga minyak kali ini disebabkan adanya ancaman serangan Amerika dan Israel terhadap instalasi nuklir Iran, yang juga pengekspor minyak 2.780 barel/hari. Sementara itu Perdana Menteri Inggris, Gordon Brown, berpendapat tingginya harga minyak dipicu turunnya produksi dari negara OPEC. Menurut data statistik, produksi minyak dunia memang dilaporkan sedikit menurun sebesar 0,2% dan pada saat yang sama kebutuhan meningkat 0,1%. Namun, pernyataan itu dibantah Presiden OPEC Chakib Khelil. Ia menegaskan bahwa perubahan permintaan dan penawaran tersebut tidak cukup signifikan untuk membuat harga minyak naik sampai 200%. Dia cenderung melihat dolar sebagai penyebab meroketnya harga minyak. Melemahnya nilai dolar ditengarai telah mendorong para investor mengalihkan investasinya pada komoditas, termasuk minyak. Yang paling menarik adalah analisis Gorge Soros. Berbeda dengan ekonom pada umumnya, Soros menyimpulkan bahwa penaikan harga minyak kali ini tidak terlepas dari ulah para spekulan. Hipotesis ini menjadi sangat menarik, karena fakta menunjukkan indikasi ke arah sana.

Pertama, naiknya kebutuhan minyak kali ini dinilai tidak wajar karena kontradiktif dengan pertumbuhan ekonomi dunia yang sedang menurun. Pada kondisi normal, jumlah konsumsi minyak seharusnya berbanding lurus dengan pertumbuhan ekonomi dunia. Kedua, dalam bursa saham terlihat adanya aliran dana investasi yang cukup besar pada komoditas minyak. Hal ini bisa mengindikasikan bahwa minyak diperdagangkan bukan lagi sebagai komoditas yang dikonsumsi melainkan hanya sebagai aset. Ketiga, kurva penaikan harga minyak pada bulan-bulan terakhir mengikuti bentuk hiperbola. Menurut Gorge Soros, pola seperti itu adalah karakteristik adanya fenomena bubbles yang merupakan indikasi terjadinya aksi spekulan.

Dampak terhadap ekonomi global

Jika ditinjau dari sudut pandang makro ekonomi, tingginya harga minyak memiliki dampak yang berbeda pada setiap negara. Berdasarkan hasil penelitian IEA (International Energy Agency) dan Departemen Ekonomi OECD (Organization for Economic Co-operation and Development), setiap penaikan harga minyak US$10/barel akan berpotensi menurunkan produk domestik bruto (PDB) sebesar 0,4% dan menaikkan inflasi sebesar 0,5%. Angka tersebut adalah nilai rata-rata kerugian yang dialami oleh negara OECD atau negara industri. Sedangkan negara berkembang seperti Indonesia pada umumnya akan mengalami dampak yang lebih buruk lagi.

Jerman adalah salah satunya. Pada bulan Juni inflasi Jerman naik 4% dibandingkan bulan yang sama pada 2007. Pertumbuhan ekonomi juga turun 0,5% dan diperkirakan 200 ribu pegawai terancam kehilangan pekerjaan. Penaikan inflasi juga terjadi di negara maju lainnya seperti Jepang, Amerika Serikat, dan China.

Meskipun terhitung sebagai negara penghasil minyak, kondisi ekonomi Indonesia juga tidak kalah mengkhawatirkan. Terlebih lagi, Indonesia saat ini bukan lagi negara pengekspor minyak. Laporan tahunan OPEC menunjukkan bahwa produksi minyak Indonesia pada 2007 hanya sebesar 969 ribu barel/hari sedangkan kebutuhan dalam negeri mencapai 1,2 juta barel/hari.

Khusus bagi Indonesia, permasalahan menjadi lebih rumit karena adanya kebijakan subsidi BBM. Dengan kondisi harga minyak di atas US$100/barel, diperkirakan APBN 2008 akan mengalami defisit sebesar Rp140 triliun. Selain itu, perilaku pemakaian bahan bakar yang tidak efisien juga akan membuat beban ekonomi kita semakin berat.

Berbagai fakta di atas telah memberikan gambaran kepada kita, bagaimana dampak negatif dari tingginya harga minyak terhadap perekonomian suatu negara. Terlepas benar atau tidaknya rumor tentang keterlibatan spekulan, langkah antisipasi perlu secepatnya diambil guna menghindari terjadinya resesi global.

 

Oleh Supriyanto MSc.
Mahasiswa S3, Supply Chain Management, Universitaet Duisburg-Essen, Jerman
Manager R&D AIPSE

Sumber: Media Indonesia

http://www.mediaindonesia.com/read/2008/08/08/23258/68/11/Spekulan_Ancam_Ekonomi_Global

 
  • Deutsch (DE-CH-AT)
  • English (United Kingdom)

Erfahren Sie über AIPSE. Flyer hier herunterladen.

AIPSE on Facebook AIPSE on Twittland AIPSE RSS

We have 1 guest online